![]() |
| Ilham Akbar Habibie (kiri). Foto: Tangselpos.co.id/dok.JPNN.com |
JAKARTA – Putra pertama Presiden ke-3 RI BJ Habibie, Ilham Akbar Habibie, sedang merintis idustri pesawat.
Melalui perusahaan investment-nya, PT
Ilthabi Rekatama, Ilham menanamkan modal ke perusahaan pembuat pesawat
terbang PT Regio Aviasi Industri (RAI) yang didirikannya bersama BJ
Habibie.
Perusahaan tersebut tengah mengembangkan
pesawat penumpang bermesin turboprop bernama R-80. Pesawat tersebut
merupakan kelanjutan dari cita-cita BJ Habibie untuk mengambangkan
pesawat sendiri di Indonesia.
Sebelumnya, di bawah Industri Pesawat
Terbang Nurtanio, BJ Habibie pernah mengembangkan pesawat sejenis
bernama N-250 atau yang dikenal juga dengan nama Gatot Kaca.
”R-80 ini adalah ide Bapak (BJ Habibie)
yang merupakan terusan dari N-250,” kata Ilham kepada wartawan saat
ditemui di sela event World Islamic Economic Forum (WIEF) ke-12 di
Jakarta kemarin (3/8).
Menurut Ilham, BJ Habibie memang punya
keinginan untuk mengembangkan pesawat itu karena ternyata Indonesia
memang pasar terbesar untuk pesawat jenis baling-baling.
Sayangnya, tidak satu pun dari
pesawat-pesawat itu merupakan karya anak bangsa. Semuanya merupakan
pesawat impor yang sebetulnya bisa dibuat sendiri oleh para insinyur di
Indonesia.
”Demand di kita, penumpang di kita,
airline di kita, tapi produknya bukan dari kita. Padahal kita punya SDM
dengan kualitas memadai. Sayang sekali kita tidak jadi tuan rumah di
negeri sendiri,” papar Ilham.
Melalui R-80, Ilham optimis bisa
mengambil alih pasar pesawat dalam negeri. Ilham makin optimis karena
ternyata peminat R-80 tidak sedikit. Sekarang saja, sebanyak 155 unit
pesawat sudah dipesan. Padahal, prototipenya saja belum ada.
”Baru akan kita buat prototipenya
sebanyak 2-3 tahun depan dan mungkin akan beres pada 2019. Setelah itu
flight test baru dikasih ke pelanggan pertama pada 2021,” ungkapnya.
Saat ini, lanjut Ilham, pesawat tersebut
masih dalam tahap pemilihan komponen. Dia mengatakan, tidak ada satu
pun perusahaan pembuat pesawat yang membuat semua komponen pesawat.
Mesin, kokpit, sistem pengendali pesawat, dan kaki pesawat lazimnya
dibuat oleh perusahaan lain.
Sementara itu, perusahaan pembuat pesawat akan memilih dan memesan ke perusahaan pembuat komponen.
”Sampai sekarang masih belum ada perusahaan Indonesia yang membuat komponen pesawat. Tapi, insya Allah nanti ada,” ucapnya.
Tidak hanya ingin menjadi tuan rumah di
negeri sendiri, Ilham juga mengincar pasar ASEAN. ASEAN jadi target
utama karena secar aperaturan sudah harmonis dengan peraturan yang
berlaku di Indonesia. Tarif ekspornya pun bisa minimal. Ilham juga
mengincar negara-negara lain yang punya karakteristik sama dnegan
Indonesia.
”Negara berkembang dengan infrastruktur terbatas. Itu peluang paling realistis,” ujarnya.
Bagaimana dengan Eropa dan Amerika?
Ilham tidak sediiit pun melirik dua benua itu. Bukan karena secara
industri Indonesia kalah. Tapi karena secara pasar, mereka tidak
menjanjikan. Ilham mengatakan, du abenua itu sudah punya pesawat
masing-masing. Infrastruktur lainnya pun bagus.
”Di Eropa, mereka biasa pakai kereta
api. Di Amerika yang memiliki banyak jalan tol, mereka lebih suka
berkendara dengan mobil. Itu sudah jadi budaya mereka,” jelas dia.
Selain diproyeksikan sebagai pesawat
penumpang, R-80 juga ke depannya bisa dibuat lebih variatif. Baik secara
ukuran maupun secara kegunaan. Untuk ukuran, Ilham mengatakan, bukan
tidak mungkin nanti dibuat lebih panjang dengan kapasitas lebih besar
yang diberi nama R-100.
Bisa juga R-80 difungsikan sebagai
pesawat kargo atau pesawat pengintai laut. ”Tapi itu nanti. sekarang
belum fokus ke sana. One by one,” katanya. (and)
Sumber : http://www.jpnn.com

0 komentar Blogger 0 Facebook
Posting Komentar