Beberapa hari yang lalu, aku bertemu
sepasang suami istri yang sedang antri menunggu giliran masuk ruang
periksa dokter spesialis anak. Anak laki-lakinya yang berusia 3 tahun,
kelihatan sedang demam. Wajah anak tersebut merah padam, meski suara
bawelnya tetap terdengar lantang.
Tertarik melihat karakter anak tersebut,
aku menyapa ibunya. Kamipun terlibat obrolan singkat. Yang pasti aku
jadi salut, karena mereka sudah menikah 17 tahun, dan baru punya anak di
usia pernikahan ke 13 tahun.
Ugh… Aku tertegun sekaligus terharu.
Beberapa bulan sebelumnya, aku juga
sempat ngobrol dengan seorang nenek yang mengantar cucunya ke sekolah
(satu sekolah dengan putriku). Obrolan kamipun masuk ke area pribadi.
Nenek itu bercerita jika dua orang putrinya, dua-duanya mengalami ujian
lama punya anak. Putri pertamanya baru punya momongan (itu cucunya yang
diantarnya setiap hari ke sekolah) di usia pernikahan ke 11 tahun.
Sementara putri ke 2nya, saat ini sudah menikah lebih dari 7 tahun.
Belum dikaruniai seorang anak.
Aku merasa seperti kilas balik. Teringat
kembali pada saat-saat aku juga merasa ujian Allah begitu besar.
Bertahun-tahun kuhadapi pertanyaan orang-orang, tentang mengapa dan apa
penyebab aku belum punya anak?.
Singkat cerita, aku tahu rasanya sulit punya anak. Tekanan dari kelaurga, dari diri sendiri bahkan dari lingkungan kerja…
“Emang siapa sih di antara kalian yang mandul?“
Itu adalah kalimat yang paling
menyakitkan yang pernah kudengar selama hidup. Termasuk sebuah kalimat
lain yang pernah dilontarkan salah seorang keluarga. “Kalian itu memang
gak usah banyak tingkah! Sudahlah mandul!.. bla bla bla..”
Telingaku tak mendengar lagi kalimat
lanjutannya. Hatiku sudah kadung sakit, rasanya seperti luka karena
teriris pisau tajam, kemudian diberi garam serta tetesan air jeruk
nipis. Begitu menyakitkan dan pilu.
Tak jarang, ada juga kalimat-kalimat
yang “katanya” memberi perhatian. Menanyakan siapa dokterku,
kesehatanku, ke mana saja sudah berobat, seberapa besar upayaku, (again)
bla … bla… bla..
Ugh… di satu sisi, aku ingin menjerit,
pertanyaan oleh tidak hanya satu orang itu sungguh meletihkan, dan di
sisi lain, aku tahu, niat mereka adalah baik. Memberi perhatian. (paling
tidak itu hal yang kucoba tanamkan dalam benak).
Suamiku sungguh laki-laki sabar. Aku
bahkan pernah mengizinkannya untuk menikah lagi. Dan hal itu membuatnya
marah. Ia tak ingin mempersulit keadaan.
“Jika Allah mengharuskan Abang hanya
berdua Dian saja, maka biarlah kita berdua saja. Tapi Abang percaya,
Allah itu Maha Besar, Dia tahu betapa kita berdua sangat menginginkan
keturunan. Sekarang kita berusaha meyakinkanNya, bahwa kita dapat
dipercaya.”
Kesabarannya menular padaku. Hingga
akhirnya Allah memberikan kepercayaan pada kami. Setelah pernikahan ke 9
tahun, aku dikarunia sepasang anak kembar namun yang berhasil hidup
adalah yang putri di tahun ke 13 pernikahan, aku dikarunian seorang anak
laki-laki.
Aku tidak serta merta memiliki keyakinan, bahwa Allah itu Maha HAK atas anak-anak yang dititipkanNya padaku.
Sama seperti pengantin baru lainnya, di
awal pernikahan, aku merasa, memiliki anak adalah hakku. Hak kami
sebagai calon orang tua. Hingga waktu membuktikan lain.
Saat proses meyakini bahwa “Anak adalah
HAK Allah”, maka aku ditemukan pada 2 (dua) ayat dalam Alquran, yang
membuat mataku terbuka, pikiranku menjadi luas, dan hatiku menjadi
lapang.
Usahaku mungkin sudah kuat, tapi jika
tidak meyakini tentang Hak Allah, itu semua belum tentu terkabul. Aku
sudah berdoa, pergi ke dokter dan melakukan segenap cara halal bin toyib
lainnya. Tapi baru pada tahun ke 5 pernikahan, saat aku diberitahu
Mamaku tentang keberadaan surat Al quran ini, aku seperti menemukan
jawaban atas kegundahanku selama ini.
Isi 2 ayat itu sebagai berikut
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ
يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ
يَشَاءُ الذُّكُورَ (٤٩) أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا
وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ (٥٠)
49. [10]Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan
apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia
kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia
kehendaki,
50. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa[11].
50. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa[11].
Perhatikan kalimat demi kalimat dalam
arti surat Asy Syuura ayat 49-50 tersebut. Betapa jelasnya HAK Allah
atas kehadiran anak dalam sebuah keluarga.
Membaca kalimat kitab suci ini, aku
langsung bersujud. Meminta ampun atas arogansi yang selama ini
kurasakan. Merasa diri punya hak atas keturunan. Astargfirullah…
Sejak itu, aku merasa ada yang terbang
dari pundakku. Aku menjadi ringan. Aku tidak lagi terbebani dengan
kalimat “mandul”. Karena itu adalah HAK Allah. Sungguh besar perubahan
yang kurasakan setelah kutemukan ayat ini.
Pada akhirnya, proses mendapatkan
kepercayaan dari Allah, bahwa aku bisa dititipkan momongan berujung
kebahagiaan. Aku mendapati posisiku sebagai hamba yang PASRAH, menunggu
Allah memberikan KepercayaanNya pada aku dan suami.
Alhamdulillah, saat ini, aku sudah
memiliki dua orang putra putri yang hidup dan sehat, serta seorang putra
yang sudah kembali ke taman firdausi milik Allah. Tiga orang anak
pernah ada dalam rahimku. Rahim yang diteriaki dan dihina orang sebagai
rahim yang Mandul. Padahal kemandulan pun adalah Hak Allah.
Kadang memang aneh, bagaimana mungkin,
manusia di dunia yang levelnya tak sebanding dengan Allah, berhak
menghakimi kemandulan seseorang? 

Untuk itu, para teman pembaca sekalian.
Jikalau saat ini hati sedang gundah, karena belum ada anak yang terlahir
dalam keluarga kecilmu, janganlah gusar!. Jangan bersedih!
Yakinkan hatimu, bahwa Anak itu Hak Allah, bukan Hakmu!
Yakinkan hatimu, bahwa Anak itu Hak Allah, bukan Hakmu!
Kita hanya butuh usaha bermain mata pada
Allah. Memberitahu dan menunjukkan, betapa kita sudah siap menjadi
orang tua, mampu untuk dititipi anak, yang tidak saja sebagai rejeki,
tapi juga ujian kehidupan,
Ada satu link bagus, tentang doa-doa
dalam rangka meyakinkan kepada Allah, bahwa kita sudah siap sedia untuk
dititipi Hak Allah tersebut. Bisa klik link tentang Cara Mengatasi
Kemandulan Secara Syari. Isinya beragam doa yang ditujukan untuk
mendapatkan kepercayaan dari Allah tersebut.
Pada akhirnya, jika memang Allah belum
merasa perlu menitipkan HakNya pada kita, jangan khawatir. karena dalam
sebuah riwayat hadits, dikatakan : “Abu Sa’id berkata bahwa
Rasulullah bersabda, Seorang mukmin itu bila sangat menginginkan anak
(namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya,
menyusuinya dan tumbuh besar dalam sekejap, sebagaimana ia
menginginkannya.” (Shahih Al-Jami’, 6649)
Tetaplah semangat! Yakinkan diri, bahwa kehadiran anak itu adalah HAK Allah. 

*Pamulang, Kembali menulis setelah vakum seminggu, Ramadhan ke 10 di tahun 2015.
Ditulis oleh Dian Iskandar
Dipublikasikan pertama kali di blog pribadinya www.dianonasis.com
Dipublikasikan pertama kali di blog pribadinya www.dianonasis.com
Sumber : http://islamedia.id

0 komentar Blogger 0 Facebook
Posting Komentar