Bandung, UPI
Usia remaja awal merupakan suatu tahap kehidupan yang bersifat transisi rentan oleh pengaruh negatif seperti narkoba, minuman keras, kriminal, dan seks bebas yang dapat membahayakan mereka. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah, jiwa remaja penuh gejolak (strum und drang). Di usia tersebut, siswa SMP berada pada tahap kehidupan yang rentan tadi.
“Lingkungan sosial remaja juga mengalami perubahan sosial yang cepat dengan terjangkau saran dan prasarana konumikasi dan perhubungan dapat mengakibatkan kesimpangsiuran norma. Fakta di masyarakat sering kita saksikan perilaku sebagian besar remaja yang agresif, tidak peduli terhadap orang lain, dan cepat emosional, hal demikian dapat memengaruhi perilaku remaja menjadi negatif dan positif,” kata Dr. Asmangiyah, saat mempertahankan disertasi pada sidang doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Jln. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Selasa (9/8/2011).
Menurut dia, remaja memiliki kemampuan berupa bakat dan minat. Ini dapat dikembangkan, karena pada masa ini merupakan masa pencarian nilai hidup. Dalam kondisi ini pula, remaja memerlukan bantuan guna menjalankan kehidupan yang efektif. Bantuan yang perlu diberikan kepada siswa adalah ranah afeksi terkait perilaku prososial, salah satunya yaitu perilaku altruistik.
Ia menambahkan, remaja yang perilakunya tidak altruistik mudah terjerumus ke dalam penyimpangan perilaku yang dapat menimbulkan korban fisik pada orang lain, yaitu melakukan perkelahian, bahkan perkoasaan. Bisa juga berupa penyimpangan perilaku yang menimbulkan korban materi, yaitu melakukan pengrusakan, pemerasaan, dan pencurian.
Remaja yang menyimpang bisa juga melakukan kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak lain, yaitu melakukan pelacuran, penyalahgunaan obat, dan hubungan seks sebelum menikah. Bahkan, mereka kadang melawan status dengan cara membolos ketika sekolah, minggat dari rumah, dan selalu membantah perintah guru dan orang tua.
“Dampak dari penyimpangan perilaku pada siswa bermuara pada permasalahan akademik, sosial, karier terkait perencanaan masa depan siswa,” kata Dr. Asmangiyah.
Dikemukakan, dalam hal ini secara fungsional konseling sangat signifikan sebagai salah satu upaya dalam membantu individu untuk mengembangkan diri secara optimal sesuai tahap perkembangan dan tuntutan lingkungan. Sebab, program konseling meliputi aspek tugas perkembangan individu, khususnya berkaitan dengan kematangan pendidikan dan social.
Dr. Asmangiyah melakukan penelitian dengan metode penelitian dan pengembangan (research and development). Penelitian ini difokuskan pada dua variabel yaitu konseling kelompok dalam setting layanan bimbingan dan konseling di sekolah; serta peningkatan perilaku altruistik siswa.
Menurut dia, dari studi pendahuluan menunjukkan bahwa secara umum perilaku altruistik siswa SMP tinggi dan sedang cenderung rendah. Secara rinci aspek empati berada pada kriteria tinggi, dan sedang cenderung rendah (49%), aspek tanggung jawab (extensivity), berada pada kategori sedang cenderung rendah (58%), dan Aspek self-effiacacy berada pada kategori sedang cenderung rendah (84%). Kemudian studi pendahualan tersebut diteliti mengenai prilaku altruistik siswa SMP tersebut.
Ditinjau dari pola asuh orang tua memberikan pengaruh sebesar 74,01%, kemudian lingkungan teman sebaya memberikan pengaruh sebesar 68,44%, dan lingkungan sekolah dan media memberi pengaruh sebesar 65,31% terhadap peningkatan perilaku altruistik siswa SMP di Jakarta.
Secara statistik (statistical significance), hasil penelitian ini menerima hipotesis nol. Dengan kata lain, hasil penelitian ini menolak hipotesis kerja. Artinya, secara statistik, MKK tidak efektif untuk meningkatkan perilaku altruistik siswa SMP walaupun secara nyata terdapat perbedaan rata-rata perolehan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dari hasil pengujian diketahui bahwa rata-rata perolehan skor kelompok eksperimen lebih besar berada pada level sedang, sedangkan rata-rata perolehan skor kelompok kontrol berada pada level rendah. (Deny Nurahmat)
Sumber: http://berita.upi.edu/2011/08/10/remaja-yang-tak-altruistik-mudah-berperilaku-menyimpang/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar Blogger 0 Facebook
Posting Komentar